SUVARNA.ID

Apa Saja Prediksi Tren Media Sosial di 2021?

Perubahan tren tentunya akan selalu terjadi, tak terkecuali tren media sosial. Dari tahun ke tahun, ada saja tren yang patut untuk dipahami agar industri atau bisnis Anda tetap berjalan dan mengikuti perkembangan pasar. Terlebih lagi dimasa pandemi ini, munculnya kebiasaan baru yang berdampak pada berkembangnya perdagangan hingga strategi pemasaran di media sosial.

Untuk itu, perlu adanya inovasi agar mampu beradaptasi. Hal tersebut memang harus dilakukan, karena dengan meninjau inovasi dalam meningkatkan awareness, pemasaran digital, teknologi, dan platform lainnya untuk tahun depan, dapat membantu para pebisnis/usaha dalam mengidentifikasi peluang baru yang dapat dimanfaatkan oleh bisnis. Lantas, seperti apa prediksi tren media sosial di tahun depan? Berikut ulasannya.

1. Menggabungkan User Generated Content (UGC)

User Generated Content (UGC) adalah jenis konten yang dibuat dan diposting oleh pengguna, lalu konten tersebut dibagikan ulang oleh merek untuk menunjukkan pengalaman pengguna terhadap produk atau layanan mereka. Cara ini kemudian diperbaharui oleh pengguna sekarang, di mana mereka menggabungkan konten dari merek yang sudah ada, lalu menggunakannya kembali agar sesuai dengan ide atau kepribadian pengguna.

Menurut para pakar sosial media, tipe UGC seperti ini yang akan banyak digunakan lagi oleh konsumen di tahun depan. Oleh karena itu, merek perlu memfasilitasi pengguna untuk membuat konten UGC yang sesuai dengan ide mereka dengan cara menyediakan logo atau template merek.

2. Social Commerce

Banyaknya orang yang berbelanja karena melihat dan terinspirasi dari sebuah konten di media sosial. Inilah yang mendorong pembuatan fitur dan popularitas social commerce. Baru-baru ini, Instagram meluncurkan fitur Shop di Indonesia. Ini merupakan bentuk social commerce yang diprediksi jadi tren media sosial pada 2021. Melansir dari Hootsuite, social commerce adalah sebuah proses penjualan produk yang prosesnya dilakukan langsung di media sosial.

3. Iklan Semakin Dinamis

Prediksi yang satu ini masih terkait dengan social commerce. Saat ini, media sosial menawarkan pemasangan iklan yang unik, mulai dari iklan yang berbentuk carousel, hingga penawaran promosi dalam fitur Story. Iklan ini dipredikasi akan terus jadi tren pada 2021 mendatang. Dengan bantuan data, iklan-iklan ini juga diprediksi makin personal dan dinamis. Pemasangan iklan ini tentunya berbayar, untuk itu Anda harus jeli dalam memasarkan menggunakan strategi ini, agar dana yang sudah dikeluarkan tidak sia-sia.

4. Fitur Story

Fitur story saat ini tak hanya dimiliki oleh Instagram. Media lain seperti Twitter, WhatsApp, Facebook, bahkan LinkedIn pun memiliki fitur ini. Populer di tahun 2020, fitur ini diprediksi terus naik daun hingga tahun depan. Dalam Instagram, fitur ini dapat menaruh Poll, Quiz, dan konten-konten interaktif lainnya yang dapat meningkatkan engagement dari Story Anda.

5. Konten Video

Di 2020 konten video dalam media sosial semakin populer. Platform streaming seperti YouTube pun semakin populer. Belum lagi, Instagram baru-baru ini merilis fitur video landscape di IGTV. Media sosial milik Facebook ini juga mulai memasukkan iklan dalam IGTV dengan durasi panjang. Tak lupa saat ini ketenaran aplikasi video TikTok pun diprediksi masih menjadi tren pada 2021.

6. Nano-influencer Marketing

Seperti yang kita ketahui, Influencer marketing terus naik daun di 2020. Tren ini pun diprediksi masih berlanjut di tahun 2021 namun dengan bentuk lain, yaitu dengan konsep nano–influencer marketing, di mana kamu bekerja sama dengan influencer yang hanya punya sedikit followers. Strategi ini dianggap mampu menghasilkan engagement lebih tinggi.

7. Munculnya Disinformasi Digital

Dengan semua kelebihan media sosial saat ini, sayangnya berita palsu atau hoaks terkadang masih kerap muncul. Mengingat masih tingginya tren berita hoaks tersebut, kemungkinan tren ini akan terbawa hingga tahun 2021. Meski begitu, kamu akan melihat saluran utama media sosial yang turut aktif untuk membatasi konten hoaks dengan memberikan pelabelan pada konten yang dianggap tidak akurat.

Melihat tren ini sebaiknya merek perlu juga mengadopsi transparansi dengan konsumen bila terjadi kesenjangan informasi dari berita yang tidak akurat tentang merek. Bisnis juga perlu melakukan pemantauan merek agar bisa mendeteksi berita palsu apa yang mungkin akan dikaitkan dengan perusahaan.

SUMBER