
Ketika sebuah perusahaan menghadapi krisis, salah satu hal pertama yang biasanya dilakukan oleh tim komunikasi adalah menyiapkan press release. Informasi dikumpulkan, kronologi disusun, pernyataan dari pihak perusahaan dirapikan, kemudian dokumen tersebut dikirimkan kepada media. Harapannya, publik mendapatkan penjelasan resmi dan pemberitaan mengenai isu yang sedang terjadi dapat dilihat dari perspektif perusahaan.
Langkah tersebut tentu penting. Dalam situasi krisis, perusahaan memang membutuhkan satu sumber informasi resmi yang dapat menjadi rujukan media dan publik. Namun, ada satu kesalahpahaman yang masih cukup sering terjadi: menganggap bahwa setelah press release dikirim, tugas komunikasi krisis telah selesai.
Padahal, justru setelah press release dikirim, proses komunikasi bisa menjadi semakin kompleks.
Media mungkin akan menghubungi perusahaan untuk meminta penjelasan lebih lanjut. Publik bisa mengajukan pertanyaan yang tidak ada di dalam press release. Percakapan di media sosial dapat berkembang dengan arah yang berbeda. Bahkan, satu pernyataan resmi perusahaan bisa memunculkan pertanyaan baru yang sebelumnya tidak diperhitungkan.
Karena itu, dalam konteks komunikasi krisis, press release seharusnya dipandang sebagai awal, bukan akhir.
Mengapa Press Release Penting Saat Krisis?
Press release memiliki fungsi yang sangat penting ketika perusahaan berada dalam situasi krisis. Ketika sebuah isu berkembang dengan cepat, perusahaan membutuhkan cara untuk menyampaikan informasi secara terstruktur, sekaligus memastikan bahwa media memiliki sumber informasi yang berasal langsung dari perusahaan.
Tanpa adanya pernyataan resmi, ruang informasi akan tetap berjalan. Media akan mencari sumber lain, publik akan membentuk interpretasinya sendiri, dan percakapan di media sosial akan berkembang berdasarkan informasi yang tersedia pada saat itu. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan berisiko kehilangan kesempatan untuk menjelaskan fakta, konteks, maupun langkah yang sedang dilakukan.
Press release membantu perusahaan mengisi kebutuhan tersebut. Melalui dokumen ini, perusahaan dapat menjelaskan apa yang diketahui, apa yang sedang dilakukan, serta posisi resmi perusahaan terhadap sebuah persoalan. Press release juga dapat menjadi referensi bagi jurnalis ketika mereka menulis berita atau membutuhkan informasi tambahan mengenai isu yang sedang berkembang.
Namun, fungsi press release pada dasarnya adalah menyampaikan informasi. Ia bukan alat yang secara otomatis dapat menyelesaikan sebuah krisis.
Mengirimkan press release tidak membuat pertanyaan publik berhenti. Tidak serta-merta membuat semua pemberitaan menjadi positif. Tidak otomatis menghentikan percakapan di media sosial. Dan tentu saja tidak menggantikan tindakan nyata yang perlu dilakukan perusahaan untuk menyelesaikan sumber masalah.
Di sinilah pentingnya melihat press release sebagai bagian dari strategi komunikasi krisis, bukan sebagai keseluruhan strategi itu sendiri.
Krisis Tidak Berhenti Setelah Pernyataan Resmi Keluar
Salah satu karakteristik krisis di era digital adalah kecepatannya. Sebuah informasi dapat menyebar jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan sebuah organisasi untuk meresponsnya. Dalam beberapa kasus, isu bahkan sudah menjadi pembicaraan publik sebelum manajemen perusahaan mengetahui bahwa masalah tersebut sedang berkembang.
Kondisi ini membuat komunikasi krisis menjadi berbeda dari komunikasi korporasi sehari-hari. Dalam situasi normal, perusahaan dapat merencanakan kampanye, menyiapkan materi, melakukan proses approval, kemudian menentukan waktu publikasi. Dalam situasi krisis, ruang untuk melakukan semua itu bisa menjadi jauh lebih terbatas.
Bayangkan sebuah perusahaan menerima keluhan pelanggan yang kemudian viral di media sosial. Tim komunikasi segera membuat press release dan menjelaskan bahwa perusahaan sedang melakukan investigasi. Pernyataan tersebut kemudian diberitakan oleh sejumlah media.
Apakah masalah selesai?
Belum tentu.
Setelah pemberitaan muncul, publik mungkin mulai bertanya mengenai berapa banyak pelanggan yang terdampak, mengapa masalah tersebut bisa terjadi, siapa yang bertanggung jawab, apa yang akan dilakukan perusahaan, dan kapan penyelesaiannya dapat diharapkan. Media mungkin meminta wawancara dengan manajemen. Pelanggan lain mungkin ikut membagikan pengalaman mereka. Bahkan bisa muncul informasi baru yang mengubah konteks persoalan.
Artinya, setelah press release keluar, perusahaan justru memasuki fase berikutnya dari komunikasi krisis.
Tim komunikasi perlu terus memantau situasi, mengidentifikasi pertanyaan yang berkembang, memastikan informasi yang beredar tetap akurat, dan menentukan kapan perusahaan perlu memberikan pembaruan berikutnya.
Krisis adalah situasi yang bergerak. Karena itu, respons komunikasinya juga harus mampu bergerak.
Komunikasi Krisis Bukan Sekadar Memilih Kata yang Tepat
Ketika membicarakan komunikasi krisis, perhatian sering kali terpusat pada pemilihan kata. Apakah perusahaan perlu meminta maaf? Apakah sebaiknya menggunakan istilah tertentu? Apakah pernyataan CEO perlu dimasukkan? Apakah kalimat tertentu berpotensi menimbulkan interpretasi yang salah?
Semua pertanyaan tersebut memang penting. Dalam situasi krisis, satu kalimat dapat memiliki konsekuensi yang lebih besar dibandingkan komunikasi biasa. Karena itu, proses penyusunan pesan harus dilakukan dengan hati-hati.
Tetapi komunikasi krisis tidak berhenti pada bagaimana sebuah pernyataan terdengar.
Hal yang jauh lebih penting adalah apakah pesan tersebut sesuai dengan tindakan perusahaan.
Jika perusahaan mengatakan sedang melakukan investigasi, publik akan menunggu hasilnya. Jika perusahaan menyampaikan bahwa perbaikan sedang dilakukan, akan ada ekspektasi untuk melihat perkembangan dari perbaikan tersebut. Jika perusahaan berjanji memberikan informasi lebih lanjut, maka perusahaan perlu benar-benar memberikan pembaruan ketika informasi tersebut sudah tersedia.
Di sinilah kredibilitas menjadi penting.
Publik tidak hanya menilai apa yang dikatakan sebuah perusahaan, tetapi juga melihat apakah perusahaan melakukan apa yang dikatakannya. Pernyataan yang terdengar sangat baik dapat kehilangan makna apabila tidak didukung tindakan yang nyata.
Sebaliknya, tindakan yang sebenarnya sudah dilakukan perusahaan juga dapat kehilangan konteks apabila tidak dikomunikasikan dengan jelas.
Karena itu, komunikasi krisis seharusnya berjalan beriringan dengan crisis management. Komunikasi menjelaskan apa yang terjadi dan apa yang dilakukan perusahaan, sementara organisasi harus memastikan bahwa tindakan yang dikomunikasikan memang benar-benar dijalankan.
Setelah Press Release, Media Masih Membutuhkan Jawaban
Bagi perusahaan, press release mungkin terasa seperti satu paket komunikasi yang lengkap. Namun bagi media, press release sering kali justru menjadi awal dari proses peliputan.
Seorang jurnalis dapat membaca pernyataan perusahaan kemudian memiliki pertanyaan lanjutan. Mereka mungkin ingin mengetahui kronologi secara lebih detail, meminta tanggapan dari spokesperson, mengonfirmasi data tertentu, atau mendapatkan penjelasan mengenai langkah perusahaan selanjutnya.
Karena itu, distribusi press release sebaiknya tidak dipisahkan dari media relations.
Perusahaan perlu memiliki kesiapan untuk merespons pertanyaan media setelah pernyataan resmi diterbitkan. Ini termasuk menentukan siapa yang dapat berbicara kepada media, informasi apa yang sudah dapat disampaikan, informasi apa yang masih harus diverifikasi, dan bagaimana memastikan pesan yang disampaikan tetap konsisten.
Dalam situasi krisis, konsistensi menjadi sangat penting. Ketika dua perwakilan perusahaan memberikan penjelasan yang berbeda mengenai satu masalah, publik dan media dapat menjadi semakin bingung. Fokus pembicaraan akhirnya bukan lagi hanya pada krisis yang terjadi, tetapi juga pada ketidakjelasan respons perusahaan.
Karena itu, keberadaan spokesperson yang tepat menjadi bagian penting dalam crisis communication. Spokesperson bukan sekadar orang yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan. Ia juga perlu memahami konteks persoalan, mengetahui key message yang harus disampaikan, mampu menjawab pertanyaan dengan tenang, serta memahami batas informasi yang dapat diberikan kepada publik.
Media Sosial Membuat Komunikasi Krisis Semakin Kompleks
Komunikasi krisis saat ini juga tidak dapat dilepaskan dari media sosial. Jika sebelumnya perusahaan dapat lebih fokus pada pemberitaan media mainstream, sekarang percakapan mengenai sebuah brand dapat terjadi secara bersamaan di berbagai platform digital.
Sebuah video dapat viral sebelum perusahaan sempat memberikan pernyataan. Potongan percakapan dapat dibagikan tanpa konteks. Komentar pelanggan dapat berkembang menjadi topik pemberitaan. Bahkan, unggahan dari satu akun dengan jumlah pengikut yang besar dapat memengaruhi persepsi publik terhadap sebuah brand dalam waktu yang sangat singkat.
Situasi seperti ini membuat social listening dan monitoring menjadi bagian penting dalam komunikasi krisis.
Namun, monitoring bukan berarti perusahaan harus membalas setiap komentar atau berusaha mengendalikan semua percakapan yang terjadi di internet. Dalam kondisi tertentu, respons yang terlalu cepat justru dapat menimbulkan masalah baru, terutama apabila informasi yang digunakan belum terverifikasi.
Yang lebih penting adalah memahami apa yang sedang terjadi.
Apa sebenarnya yang menjadi kekhawatiran publik? Apakah ada informasi yang keliru? Apakah muncul pertanyaan yang berulang? Apakah ada pelanggan yang mengalami masalah serupa? Apakah isu tersebut sudah berkembang menjadi persoalan yang berbeda dari isu awal?
Informasi tersebut dapat membantu perusahaan menentukan respons berikutnya.
Di sinilah digital PR memiliki peran yang semakin besar. Komunikasi perusahaan tidak lagi hanya berlangsung melalui media dan press release, tetapi juga melalui website, media sosial, komunitas digital, influencer, customer service, dan berbagai titik interaksi lainnya.
Pesan utama perusahaan harus tetap konsisten, tetapi cara menyampaikannya perlu disesuaikan dengan karakter masing-masing kanal.
Jangan Lupakan Karyawan Saat Krisis Terjadi
Dalam situasi krisis, perhatian perusahaan biasanya tertuju kepada media dan publik. Namun ada satu stakeholder yang sering terlupakan: karyawan.
Karyawan merupakan bagian dari organisasi dan dalam banyak kasus mereka juga menjadi pihak yang berinteraksi langsung dengan pelanggan. Ketika perusahaan sedang menghadapi pemberitaan besar, sangat mungkin karyawan mendapatkan pertanyaan dari pelanggan, keluarga, teman, bahkan pihak eksternal lainnya.
Masalah dapat muncul ketika karyawan justru mengetahui informasi mengenai perusahaan dari media atau media sosial.
Komunikasi internal tidak berarti perusahaan harus membagikan seluruh informasi kepada semua karyawan. Namun, karyawan perlu mendapatkan konteks yang cukup mengenai situasi yang sedang terjadi, terutama jika isu tersebut berpotensi memengaruhi pekerjaan atau interaksi mereka dengan stakeholder.
Perusahaan juga dapat memberikan arahan mengenai siapa yang berwenang memberikan pernyataan, bagaimana menjawab pertanyaan eksternal, dan ke mana karyawan harus mengarahkan permintaan informasi.
Hal sederhana seperti ini dapat membantu menjaga konsistensi informasi di dalam organisasi.
Sebab, akan sulit bagi perusahaan menjaga komunikasi eksternal jika orang-orang di dalam organisasi sendiri tidak memahami apa yang sedang terjadi.
Cepat Bukan Berarti Terburu-buru
Dalam krisis, kecepatan memang penting. Publik menginginkan penjelasan dan media membutuhkan informasi. Terlalu lama diam dapat membuat ruang informasi diisi oleh pihak lain.
Namun, kecepatan tidak seharusnya mengorbankan akurasi.
Ada perbedaan antara merespons dengan cepat dan merespons secara terburu-buru. Respons cepat berarti perusahaan memiliki mekanisme yang memungkinkan mereka mendapatkan fakta, menentukan pesan, melakukan approval, dan menyampaikannya dalam waktu yang efisien. Respons terburu-buru terjadi ketika perusahaan mengeluarkan informasi sebelum fakta cukup jelas hanya karena merasa harus mengatakan sesuatu.
Keduanya terlihat mirip dari luar, tetapi dampaknya bisa sangat berbeda.
Pernyataan yang ternyata tidak akurat dapat memaksa perusahaan melakukan koreksi. Jika koreksi tersebut terjadi berulang kali, kredibilitas perusahaan dapat ikut dipertanyakan.
Karena itu, perusahaan perlu memiliki alur pengambilan keputusan yang jelas sebelum krisis terjadi. Siapa yang mengumpulkan informasi? Siapa yang melakukan verifikasi? Siapa yang menyetujui pernyataan? Siapa yang berbicara kepada media? Siapa yang memantau percakapan digital?
Semakin jelas jawabannya, semakin kecil kemungkinan tim komunikasi kehilangan waktu untuk mencari tahu siapa yang harus melakukan apa ketika krisis benar-benar terjadi.
Crisis Communication Seharusnya Dipersiapkan Sebelum Krisis
Ironisnya, salah satu waktu terbaik untuk memikirkan komunikasi krisis adalah ketika perusahaan sedang tidak mengalami krisis.
Persiapan sebelum krisis memberikan perusahaan kesempatan untuk memikirkan berbagai skenario tanpa tekanan yang biasanya muncul ketika isu sudah berkembang. Perusahaan dapat mengidentifikasi potensi risiko, memetakan stakeholder, menentukan spokesperson, menyiapkan struktur approval, serta membuat panduan mengenai bagaimana organisasi harus merespons situasi tertentu.
Bukan berarti semua krisis dapat diprediksi. Tentu tidak.
Namun, kesiapan membuat perusahaan memiliki fondasi ketika menghadapi sesuatu yang tidak terduga.
Misalnya, perusahaan sudah mengetahui siapa yang akan menjadi spokesperson, bagaimana alur approval untuk pernyataan publik, siapa yang harus dihubungi ketika isu muncul di media, dan bagaimana monitoring dilakukan. Ketika krisis terjadi, tim tidak perlu membangun semua proses tersebut dari nol.
Dalam komunikasi krisis, persiapan seperti ini sering kali jauh lebih berharga daripada memiliki satu press release yang sangat sempurna.
Reputasi Tidak Pulih Hanya Karena Pemberitaan Mulai Berkurang
Ada satu fase lain yang sering tidak mendapatkan perhatian cukup: periode setelah krisis.
Ketika jumlah pemberitaan mulai menurun dan percakapan di media sosial tidak lagi seramai sebelumnya, perusahaan mungkin merasa situasi sudah kembali normal. Padahal, berkurangnya percakapan tidak selalu berarti reputasi sudah pulih.
Stakeholder mungkin masih memiliki pertanyaan. Pelanggan mungkin masih mengingat kejadian tersebut. Karyawan mungkin masih membutuhkan penjelasan. Dan perusahaan sendiri mungkin masih perlu melakukan berbagai perubahan sebagai bagian dari penyelesaian masalah.
Karena itu, komunikasi setelah krisis juga penting.
Jika perusahaan sebelumnya mengatakan akan melakukan perbaikan, maka perkembangan perbaikan tersebut dapat menjadi bagian dari komunikasi berikutnya. Jika ada kebijakan baru, perubahan proses, atau langkah korektif, hal tersebut juga dapat dikomunikasikan ketika memang relevan.
Tujuannya bukan untuk terus membicarakan krisis, melainkan menunjukkan bahwa perusahaan mengambil tindakan setelah krisis tersebut terjadi.
Reputasi pada akhirnya dibentuk oleh pengalaman dan konsistensi dalam jangka panjang. Satu press release tidak dapat membangun kembali kepercayaan apabila tindakan perusahaan setelahnya tidak menunjukkan perubahan yang berarti.
Press Release Adalah Bagian dari Sebuah Ekosistem Komunikasi
Jika dilihat secara lebih luas, press release sebenarnya hanya satu bagian dari ekosistem komunikasi krisis.
Ada media relations yang memastikan hubungan dengan media tetap berjalan. Ada social media dan digital PR yang menangani percakapan di kanal digital. Ada komunikasi internal untuk memastikan karyawan memahami situasi. Ada spokesperson yang menjadi representasi perusahaan. Ada monitoring untuk melihat bagaimana isu berkembang. Dan ada komunikasi pascakrisis untuk mendukung proses pemulihan reputasi.
Semua elemen tersebut saling berkaitan.
Karena itu, ketika sebuah brand menghadapi krisis, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya, “Apakah press release sudah dibuat?”
Pertanyaannya perlu lebih luas: apakah perusahaan sudah memahami situasinya? Apakah fakta sudah diverifikasi? Apakah stakeholder utama sudah dipetakan? Siapa yang akan berbicara? Apa pesan utama yang ingin disampaikan? Bagaimana perusahaan akan merespons pertanyaan media? Bagaimana percakapan di media sosial akan dipantau? Dan yang tidak kalah penting, apakah tindakan perusahaan sejalan dengan pesan yang disampaikan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu mengubah pendekatan dari sekadar membuat press release menjadi mengelola komunikasi krisis.
Ketika Press Release Sudah Dikirim, Pekerjaan Belum Selesai
Pada akhirnya, press release tetap merupakan instrumen yang penting dalam komunikasi perusahaan, termasuk ketika menghadapi situasi krisis. Dokumen ini membantu perusahaan menyampaikan informasi resmi, memberikan konteks kepada media, dan menjadi salah satu sumber rujukan bagi publik.
Tetapi sebuah krisis tidak pernah hanya terjadi di dalam sebuah dokumen.
Krisis terjadi di ruang publik, di media, di media sosial, di antara pelanggan, di dalam organisasi, dan di berbagai titik interaksi antara brand dengan stakeholder-nya. Karena itu, respons terhadap krisis juga harus bergerak di ruang yang sama.
Perusahaan perlu siap menghadapi pertanyaan setelah press release dikirim. Perlu memahami bagaimana media memberitakannya. Perlu memantau percakapan digital. Perlu memastikan karyawan mendapatkan informasi yang tepat. Perlu menjaga konsistensi spokesperson. Dan yang paling penting, perlu memastikan bahwa tindakan nyata perusahaan berjalan sejalan dengan komunikasi yang disampaikan.
Press release adalah awal, bukan akhir dari komunikasi krisis.
Sebab ketika press release sudah dikirim, pertanyaan sebenarnya baru dimulai: bagaimana perusahaan merespons setelahnya?
Di situlah kualitas komunikasi krisis benar-benar diuji. Bukan hanya dari seberapa baik perusahaan menyusun pernyataan, tetapi dari seberapa konsisten perusahaan berkomunikasi, bertindak, dan menjaga kepercayaan stakeholder selama dan setelah krisis berlangsung.
Bagi brand, tujuan akhirnya bukan sekadar mendapatkan pemberitaan bahwa perusahaan telah memberikan klarifikasi. Yang lebih penting adalah memastikan stakeholder mendapatkan informasi yang akurat, perusahaan menunjukkan respons yang bertanggung jawab, dan komunikasi yang dilakukan menjadi bagian dari proses penyelesaian masalah—bukan sekadar respons untuk meredakan situasi sesaat.


